Kejenuhanku Bagian 3

Beberapa faktor yang menghambat “KREATIVITAS ” diantaranya :

Pertama, Terpenjara oleh Rutinitas (Time Trapped). Semua orang mempunyai rutinitas, namun yang membedakan orang kreatif dan orang yang tidak kratif adalah bukan rutinitasnya, melainkan ada yang dipenjara (diatur), dan ada orang yang menguasai (mengatur) rutinitas. bila kita dikuasai oleh rutinitas itu, maka kreatifitas kita terancam, tetapi bila kita yang mengaturnya, kreativitas kita akan tetap muncul. Kreativitas membutuhkan kemampuan untuk mengontrol diri, di mana kita menempati sebagai pihak yang mengontrl hidup kita, pihak yang mengontrol apa yang kita lakukan. Kreatifitas membutuhkan kemampuan untuk memposisikan diri sebagai penyebab (The Creator) bukan sebagai akibat (The effect).

Kedua, Terkena polusi lingkungan (Enviromental Pollution). Semua lingkungan mempunyai polusi mengeluarkan udara negatif bagi perkembangan kreativitas kita. kalau kita membiarkan diri kita terkena polusi itu, maka kreativitas kita terancam. Tetapi kalau kita sanggup membersihkan polusi itu dalam diri kita, kemungkinan besar kreativitas kita masih kita tetep terjaga. Kreativitas membutuhkan suatu yang berbeda yang kebanyakan orang pada umumnya. Kreatifitas terkadang membutuhkan keberanian untuk menjadi beda dengan lingkungan. Erich Fromm mengatakan : Kreatifitas membutuhkan keberaniaan untuk “meluapkan” hal-hal yang sudah dianggap sebagai kepastian, kebutuhan. “Ada yang mengatakan bahwa musuh utama kreatifitas adalah konformasi” (ikut-ikutan karena takut dibilang beda).

Ketiga, dikuasai ketakutan pada resiko usaha. Ketakutan pada resiko usaha mempunyai pengertian dua hal. Jika kita menguasai ketakutan itu, maka bisa digunakan untuk melindungi, mengantisipasi, dan mendorong kreativitas. Mark Twain mengatakan :
“Keberanian bukanlah hilangnya rasa takut dari diri. Keberaniaan adalah kemampuan untuk menguasai rasa takut itu.”
Tetapi jika kita yang menguasai rasa takut, hingga membuat kita takut melakukan sesuatu, takut melangkah, takut menghadapi persoalan (menghindari tanggung jawab), maka ketakutan semacam inilah yang sering menjadi ancaman bagi kreativitas. Takut yang kedua ini oleh Prof. Schein dikatakan sebagai ketakuta untuk sukses (Fear of Success).

Keempat, Perfeksionis (serba sempurna). pola berpikir yang mengacu pada asas harus pada serba smpurna juga mempunyai dua penertian, di mana yang satu bisa membangkitkan Kreativitas, dan yang lain malah membunuh kreativitas. Kapan akan membangkitkan? Ketika kita berpikir bahwa kita harus berusaha MENYEMPURNAKAN proses atau hasil yang sudah kita jalankan. Stui para ahli menemukan bahwa sebagian besar orang berprestasi tinggi di bidangnya orang menerapkan ini. Lalu kapan akan membunuh? Ketika kita menolak hasil atau proses kecuali yang menurut kita smpurna (Perfeksionis). Penolakan demikian sering membatasi pikiran kita agar bekerja secara kreatif, karena tidak ada sesuatu yang langsung sempurna dan serba sempurna dalam arti tanpa cacat atau tanpa kekurangan.

Kelima, Kemampuan semu (Calm Water). Hidup yang menanggung banyak masalah (Kemampuan Semu) dan terlalu jarang menghadapi tantangan, mengumbar kemnjaan, “Jika kamu belum pernah merasa takut, terhina, terluka, berarti kamu belum pernah menjalani perubahan penting dalam hidupmu,” Erich Fromm mengatakan : “Mengkondisikan diri menjadi orang kreatif bisa di lakukan selalu mengajukan pertanyaan, selalu berkonsentrasi, selalu menerima konflik dan tekanan, dan selalu secara mental merasa lahir kembalisetiap hari, dan selalu memiliki kesadaran diri.”

Keenam, Berpikir salah-besar (Wright-Wrong Thinking). Kreativitas membutuhkan pola berpikir terbuka yang terbuka yang melihat semua yang terjadi dan semua yang ada sebagai materi untuk dipelajari, sebagai materi untuk menciptakan sesuatu, sebagai materi yang akan dialami (Experince for Learning). James Russell Lowell (1619-1891), Mmengatakan : “Kreativitas bukanlah menentukan sesuatu yang baru, tapi membuat sesuatu yang sudah ada menjadi baru.” Kerativitas adalah melihat sesuatu sama seperti orang lain, tetapi berfikir beda dengan orang lain untuk memproduksi hasil yang berbeda. Hal demikian tentu sangat sulit apa bila pola berpikir yang kita pasang adalah menutup, ini yang paling benar, itu yang paling salah, dan seterusnya.

Ketujuh, kesimpulan pribadi (Self Fulfiling Prophcy). Kalau kita sudah berkesimpulan bahwa diri kita bukanlah orang yang kreatif, bukanlah orang yang diberi anugrah Kreativitas oleh Tuhan, maka kesimpulan itu telah mematikan kreativitas kita, atau menutup jalan bagi langkah kita menjadi orang kreatif. Kesimpulan tertentu yang diciptakan dikepala kita tentang diri kita,adalah awal terciptanya kenyataan tentang diri kita. Bukan hanya kreativitas saja, tapi apa yang kita lakukan (baik-buruk) apa yang sanggup kita lakukan (tinggi-rendah), semua itu berawal dari definisi-diri, opni-diri, citra-diri, atau kesimpulan kita tentang diri kita. “dari sistem pendidikan yang terbukti berhasil di seluruh dunia, citra diri ternyata lebih penting dari mata pelajaran,” Gondan Dryden.

Kedelapan, Berpikir jangka pendek (Bottom Line Thiking). Kreativitas bisa dimiliki oleh orang-orang yang selalu didorong oleh semangat, motivasi, dan spirit untuk mewujudkan keinginan, kemajuan, dan kesempurnan. Kalau kita sudah memiliki modal hidup “apa adanya,” menerima dengan pasrah, atau memilih untuk membiarkan keadaan, maka mungkin sekali kreativitas kita bersembunyi.” Stadi dibidang karir menentukan bahwa karyawan yang mempunyai standar pencapaian tinggi (tidak hanya menunggu gaji) ternyata lebih kreatif dan lebih termonivasi untuk maju, ketimbang karyawan yang hanya menunggu gaji semata.

Kesembilan, Hanya satu jawaban tunggal (Only One Right Answer). Kalau kita berpikir bahwa hanya ada satu jalan tunggal atau jawaban tunggal untuk menyelesaikan masalah, maka kesimpulan itulah yang membatasi diri kita seperti dalam contohpembahasan kali ini. Linus Paluing mengerjakan bahwa, cara yang paling bagus untuk mendapatkan ide adalah bagus dengan memiliki ide sebanyak mungkin. Dengan memiliki ide sebanyak mungkin akan membuat kita mempunyai pilihan satu ide yang lebih kreatif. Edward de Bono oleh karena itu mengatakan bahwa, lebih baik memiliki banyak ide yang mungkin salah sebagiannya, ketimbang mempunyai ide benar namun hanya satu.

2 thoughts on “Kejenuhanku Bagian 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s